Senin, 12 Januari 2015

CERPEN

Di Balik Jendela Kaca

Semburat mentari di siang itu, tak merapuhkan semangat gadis kecil yang setiap harinya berdiri di balik jendela kaca sebuah kelas di sekolah dasar. Dengan berbekal sebuah buku usang dan pensil yang mungil, ia memperhatikan guru yang sedang menerangkan apa yang sedang dipaparkannya. Baju usang berwarna putih dan kaki tidak beralaskan apapun, tidak menggoyahkan semangatnya yang kokoh. Dari gambaran seperti itu, sudah jelas bisa ditebak. Gadis kecil itu bukan berasal dari keturunan seorang pengusaha yang kaya raya, bukan keturunan dari anak konglomerat, apalagi anak seorang bangsawan. Ia berasal dari kalangan bawah, yang hidupnya jauh dari fasilitas. Hidupnya bergantung dari setiap tong sampah yang berjejer di setiap rumah-rumah besar, megah, dan mewah.
Gadis kecil itu bernama Asmi. Ia merupakan gadis kecil berusia 8 tahun. Kedua orang tuanya telah meninggal setahun yang lalu. Kedua orang tua Asmi merupakan kalangan yang tak berada. Mereka menggantungkan hidupnya dari tong ke tong. Nasi basi, lauk yang sudah di hinggapi oleh lalat hijau, bahkan sisa-sisa tetesan air yang berada dibotol. Itu semua menjadi santapan yang lezat bagi mereka. Tanpa berpikir resiko yang akan menimpa mereka setelah mengkonsumsi semua itu. Tidak hanya sekali, tetapi itu semua menjadi santapan harian mereka. Sedangkan uang tak seberapa hasil mereka mengumpulkan botol-botol bekas, mereka tabung untuk menyekolahklan Asmi. Namun tak ada yang bisa menebak takdir kapan disaat orang kaya menjadi jatuh miskin, orang miskin naik tahta menjadi konglomerat, orang sehat menjadi sakit, orang sakit menjadi sehat, bahkan hingga ajal. Semua itu rahasia ilahi. Belum sempat Asmi menjajaki bangku kelas 2, ia terpaksa berhenti sekolah lantaran tidak mempunyai biaya sepeserpun, semenjak orang tuanya meninggal.
Dari situlah Asmi nekat mengikuti jejak kedua orang tuanya, menjadi seorang pemulung. Ia tidak berlarut meratapi nasibnya, kedua orang tuanya menjadi motivasi Asmi. Motivasi sebagai pemulung ?? tentu saja tidak, tidak ada yang mau menjadi pemulung. Sekalipun iya, itu karena keadaan yang memaksa. Sama halnya yang terjadi pada Asmi. Uang mempersempit kalangan bawah untuk menikmati apa yang seharusnya mereka dapatkan. Hal sekecil apapun sekarang kebanyakan dinilai dengan uang. Yang lebih memprihatikan lagi, sebuah hal yang begitu besar dan sangat berarti sekarang bukan hanya dinilai dengan uang, tetapi dapat diperjual-belikan. Makanan pokok ? barang antik ? tanah ?. Bukan itu, itu hanyalah hal biasa yang ada disekeliling manusia terutama dikalangan berada. Harga diri. Ya, harga diri saat ini dengan mudahnya dapat diperjual-belikan.
Asmi berpikir bahwa ia harus kembali menuntut ilmu. Ia tidak mau seperti kedua orang tuanya yang hidup dalam kesusahan. Bukan bagaimanapun caranya ia mendapatkan uang secepat mungkin dengan segala hal, tetapi dengan bagaimana caranya ia mendapatkan uang dengan halal, meskipun memerlukan kesabaran dan waktu yang tak tentu. Pemikiran yang cukup matang untuk anak se-umuran Asmi yang harusnya menikmati masa kanak-kanak nya dengan penuh canda-tawa, berkumpul bersama teman-teman sebaya nya, bahkan merengek dan memohon-mohon kepada orang tua mereka jika menginginkan sesuatu. Tetapi itu semua bukan yang dirasakan dan didapatkan oleh Asmi. Asmi tidak merasa iri ataupun cemburu melihat teman-teman sebaya disekitarnya yang merasakan hal itu. Justru dengan hidup susah dikalangan orang-orang yang serba ada menjadikan Asmi memiliki keinginan dan jiwa kerja keras yang tinggi bahwa ia harus kerja keras untuk seperti mereka. Berbeda dengan Asmi, bukan menjadi seperti mereka yang bergelimang uang kemudian menghamburkan uang begitu saja. Tetapi menjadi seperti mereka yang memiliki uang, tetapi dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Luar biasa !!!
Ia hidup di tengah-tengah peliknya ibukota, kawasan kumuh dekat bantaran sungai dengan beratapkan selembar seng bekas dan beralaskan kardus yang ketika turun hujan ia harus berlontang-lantung kesana-kemari mencari tempat berteduh. Ia bukan satu-satunya anak yang bernasib malang. Ada ribuan bahkan jutaan anak, yang bernasib sama seperti Asmi. Namun Asmi merupakan salah satu dari jutaan anak yang memiliki kemauan yang keras untuk keluar dari nasib itu. Nasib yang akan tetap pada diri seseorang jika mereka tetap melakukan hal sama dan berulang-ulang tanpa menjurus ke arah perubahan yang lebih baik. Pendidikan adalah salah satu jalan menuju perubahan itu. Oleh karena itu, setiap pagi hingga pukul 12 siang ia selalu pergi ke sekolah bekas ia sekolah setahun yang lalu. Meskipun ada perubahan, yang awalnya ia berada di dalam kelas sekarang ia berada di luar kelas, tepatnya di balik jendela kaca. Tak sedikit cemoohan yang keluar dari mulut-mulut anak-anak juragan, anak pengusaha, bahkan anak konglomerat yang mereka lontarkan kepada Asmi setiap harinya.
Hingga suatu hari berlalu, Asmi melihat sekumpulan botol yang ia kumpulkan setiap harinya yang belum sempat dijual. Tak terlintas ia harus menjual botol bekas itu, tiba-tiba terlintas di pikirannya sebuah ide yang brilliant !!! sebagian uang yang terkumpul, ia gunakan untu membeli lem. Ia mengumpulkan tutup botol bekas minuman. Ia bergegas mencuci tutup botol yang sudah ia kumpulkan. Satu-persatu, tutup botol itu ia rekatkan erat dengan lem hingga membentuk tempat yang bermanfaat. Ia membuat sebuah tong sampah. Tong sampah yang dibuat berbahan ratusan tutup botol yang biasanya orang-orang buang begitu saja kini menjadi sebuah tempat yang berguna. Tong sampah hasil karya nya itu, kemudian ia jajahkan dijalanan, ia tawarkan ketika lampu merah. Kaca demi kaca mobil ia ketuk untuk menawarkan hasil karya nya itu. Tak sedikit orang yang enggan membuka kacanya untuk melihat apalagi membelinya. Orang-orang kaya berdasi yang hanya sibuk bergelut dengan waktu dan duduk manis ditempat ber-AC sembari menatap komputer. Mereka memiliki pandangan hidup yang luas, tetapi tidak dengan mata hatinya. Mereka menggunakan matanya untuk melihat dunia sekitar tetapi kebanyakan dari mereka tidak melihat dunia disekitar mereka dengan mata hatinya. Hampir puluhan kaca mobil yang ia ketuk, tak ada satupun yang membukanya. Mereka memburu waktu, waktu yang didalamnya terdapat uang uang dan uang. Terik matahari disiang itu, membuat Asmi bermandikan keringat. 
Hingga pada suatu ketika, ada sepasang suami istri yang berbaik hati dengan menggunakan motor butut keluaran jaman dulu “astrea” memanggil Asmi. Mereka terlihat bukan dari kalangan berada, bukan dari kalangan menengah bukan pula dari kalangan bawah seperti Asmi. Mereka bisa dibilang berada diantara kalangan menengah dan kalangan bawah. Asmi pun menghampiri kedua pasang suami istri itu. Dan ternyata mereka ingin membeli tong sampah hasil karya Asmi. Mereka tidak iba, justru karena mereka salut akan kegigihan anak seumuran Asmi yang tak kenal lelah menjajakkan sebuah tong sampah meskipun berpuluh-puluh mobil enggan membukakan kacanya. Sepasang suami istri itu menawarkan tong sampah miliknya dengan sebuah kantong plastik yang berisikan labu. Di satu titik sebenarnya Asmi sangat membutuhkan uang agar ia dapat melanjutkan sekolahnya yang terputus itu. Tetapi disisi lain ia merasa sangat senang karena masih ada yang mau melihat dan menghargai hasil karya nya itu, meskipun hanya dihargai dengan sebuah labu. Dengan penuh ikhlas Asmi menukarkan tong sampah miliknya dengan sebuah labu. Dalam benaknya “apalah arti sebuah karya jika hanya dihargai dengan uang, dihargai tidak harus dengan uang. Uang dapat dicari kemudian”.
Sesampainya di rumah tempat ia tinggal dengan kumpulan botol-botol sampah miliknya. Tepatnya bukan rumah, karena memang tidak layak untuk di huni. Gubuk ?? yah mungkin itu sebutan yang tepat. Ia membelah labu itu, dan tak disangka didalam labu kecil pemberian kedua suami istri itu terdapat mutiara. Sempat ganjil memang, ketika sepasang suami istri itu memberikan labu miliknya, Asmi melihat labu didalam plastik yang telah berada dalam genggamnya. Belum sempat Asmi mengucapkan terimakasih karena mereka berkenan melihat tong sampah yang dibuatnya, tiba-tiba kedua orang itu menghilang sekejap mata padahal lampu masih merah belum berubah hijau. Asmi terheran, tetapi ia tidak menghiraukan hal itu. Ia hanya berpikir, mereka adalah jelmaan malaikat yang Tuhan kirimkan untuk menolongnya. Tidak ada yang tidak mungkin, dan tidak ada yang mustahil di dunia ini selama Tuhan berkehendak atas segala kuasa-Nya.
Asmi bergegas menjual mutiara itu. Uang yang didapatkan dari hasil penjualan mutiara tersebut begitu banyak. Ia dapat melanjutkan sekolahnya, membeli rumah mewah, mobil, menyewa pembantu, bahkan ia dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih bagus dari sekolah yang sebelumnya ia tempati. Tapi di luar dugaan dan diluar bayangan. Rumah mewah, sekolah elit, mobil, pembantu tidak sedikitpun berada dalam lintas pikirannya. Ia tetap sekolah di tempat sebelumnya ia sekolah, ia membeli rumah tetapi rumah yang sederhana. Karena ia merasa bahwa saat ini belum saatnya. Sisa uang yang ia miliki, ia bagikan kepada orang-orang yang bernasib sama sepertinya. Ia berpikir bahwa semua yang di miliki bukan hak ia seutuhnya, ia hanya menggunakan rejeki dari Tuhan secukupnya bukan semaunya. Karena semaunya tidak akan ada batasnya. Bocah ajaib memang. Ia tetap menjadi pemulung, tetapi ia tidak meninggalkan kewajibannya sebagai pelajar. Uang hasil sebagian ia menjual barang bekas merupakan bekal Asmi dalam membiayai kebutuhan hidupnya.
Detik, jam, hari, bulan, waktu dan tahun demi tahun berlalu. Tak terasa, Asmi telah tumbuh menjadi seorang remaja dan kini ia duduk di bangku SMA. Bukankah jika ditotal..biaya SD, SMP, SMA cukup banyak dan jika dibandingkan dengan hasil dari penjualan barang bekas tidak akan cukup untuk membiayai sekolahnya. Uang penjualan barang bekas hanya dapat membeli makan sehari-hari. Tidak hanya bekal barang rongsokan, tetapi otak yang ia punya. Tidak sia-sia ia selalu berada di balik jendela kaca dengan berbekal buku usang dan pensil mungil. Dengan ketekunan dan kegigihannya dalam menuntut ilmu, Ia selalu mendapatkan beasiswa. Bukan beasiswa bagi anak yang kurang mampu, tetapi beasiswa bagi anak-anak yang memiliki otak brilliant alias pintar. Ia telah membuktikan bahwa ia dapat menunjukkan kemampuannya, bukan menunjukkan belas kasihan kepada setiap orang. Orang yang cerdas bukan berasal dari kalangan kaya ataupun miskin. Tetapi dari cara ia mengolah, berbekal tekad, kemampuan, dan kemauan tinggi yang tertanam dalam dirinya sendiri.
Tentu saja Asmi tidak berhenti dalam mengembangkan segala ide yang ia punya untuk menghasilkan kreativitas-kreativitas dalam mengolah barang bekas menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai jual. Ia terus menggali ide yang ia punya dan mengajarkannya kepada orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan. Khususnya ibu rumah tangga berada dikalangan bawah yang bekerja sebagai pemulung. Karena Asmi pernah merasakan betul gertir pahitnya berada diposisi itu apalagi semenjak ia kecil.
Hingga lulus SMA, ia melanjutkan kuliah tentunya tidak mengeluarkan uang sepeserpun, melainkan beasiswa. Setelah lulus kuliah, ia bekerja disebuah perusahaan. Tempat orang-orang mengenakan dasi, dan berkemeja rapih yang dulunya hanya bisa mencemooh dan tidak bisa memandang orang sekitar menggunakan mata hatinya. Ia tidak balas dendam, tetapi ia ingin menunjukkan bahwa tidak seharusnya memandang rendah orang yang berada dibawah. Asmi tetap menjadi seseorang yang rendah hati. Saat ini memang Asmi terlihat sibuk dengan rutinitas barunya sebagai karyawan disalah satu perusahaan di Ibukota. Tetapi hasil dari kesibukannya semata untuk mendirikan sebuah tempat untuk menampung orang-orang kalangan bawah. Untuk apa ?? untuk membagikan dan mengajarkan ide kreatifnya dalam mengolah barang bekas yang memiliki nilai jual ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia berharap agar tidak ada lagi pemulung, pengemis ataupun pengamen dijalanan. Andai kedua orang tuanya masih hidup, pasti mereka bangga melihat anak semata wayangnya kini menjadi seseorang yang berguna dan bermanfaat bagi setiap orang. Rahasia terbesar Asmi adalah disaat ia berjuang keras mati-matian tanpa lelah, tanpa menyerah, hasil karya nya di tolah sana-sini, sekejap pertolongan dari Tuhan pun datang. Entah melalui perantara apapun itu. Ini membuktikan bahwa Tuhan tidak tidur. Tuhan selalu mengawasi setiap gerak-gerik dan apa saja yang dilakukan manusia. Tuhan akan memapah orang yang mau berusaha dan berdoa. Tetapi seketika Tuhan bisa melepaskan kita dari genggamannya, ketika kita menyalahgunakan pemberian dan pertolongan dari-Nya. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar