Di
Balik Jendela Kaca
Semburat
mentari di siang itu, tak merapuhkan semangat gadis kecil yang setiap harinya
berdiri di balik jendela kaca sebuah kelas di sekolah dasar. Dengan berbekal
sebuah buku usang dan pensil yang mungil, ia memperhatikan guru yang sedang
menerangkan apa yang sedang dipaparkannya. Baju usang berwarna putih dan kaki
tidak beralaskan apapun, tidak menggoyahkan semangatnya yang kokoh. Dari
gambaran seperti itu, sudah jelas bisa ditebak. Gadis kecil itu bukan berasal
dari keturunan seorang pengusaha yang kaya raya, bukan keturunan dari anak
konglomerat, apalagi anak seorang bangsawan. Ia berasal dari kalangan bawah,
yang hidupnya jauh dari fasilitas. Hidupnya bergantung dari setiap tong sampah
yang berjejer di setiap rumah-rumah besar, megah, dan mewah.
Gadis
kecil itu bernama Asmi. Ia merupakan gadis kecil berusia 8 tahun. Kedua orang
tuanya telah meninggal setahun yang lalu. Kedua orang tua Asmi merupakan
kalangan yang tak berada. Mereka menggantungkan hidupnya dari tong ke tong.
Nasi basi, lauk yang sudah di hinggapi oleh lalat hijau, bahkan sisa-sisa
tetesan air yang berada dibotol. Itu semua menjadi santapan yang lezat bagi
mereka. Tanpa berpikir resiko yang akan menimpa mereka setelah mengkonsumsi
semua itu. Tidak hanya sekali, tetapi itu semua menjadi santapan harian mereka.
Sedangkan uang tak seberapa hasil mereka mengumpulkan botol-botol bekas, mereka
tabung untuk menyekolahklan Asmi. Namun tak ada yang bisa menebak takdir kapan
disaat orang kaya menjadi jatuh miskin, orang miskin naik tahta menjadi
konglomerat, orang sehat menjadi sakit, orang sakit menjadi sehat, bahkan
hingga ajal. Semua itu rahasia ilahi. Belum sempat Asmi menjajaki bangku kelas
2, ia terpaksa berhenti sekolah lantaran tidak mempunyai biaya sepeserpun,
semenjak orang tuanya meninggal.
Dari
situlah Asmi nekat mengikuti jejak kedua orang tuanya, menjadi seorang
pemulung. Ia tidak berlarut meratapi nasibnya, kedua orang tuanya menjadi
motivasi Asmi. Motivasi sebagai pemulung ?? tentu saja tidak, tidak ada yang
mau menjadi pemulung. Sekalipun iya, itu karena keadaan yang memaksa. Sama
halnya yang terjadi pada Asmi. Uang mempersempit kalangan bawah untuk menikmati
apa yang seharusnya mereka dapatkan. Hal sekecil apapun sekarang kebanyakan
dinilai dengan uang. Yang lebih memprihatikan lagi, sebuah hal yang begitu
besar dan sangat berarti sekarang bukan hanya dinilai dengan uang, tetapi dapat
diperjual-belikan. Makanan pokok ? barang antik ? tanah ?. Bukan itu, itu
hanyalah hal biasa yang ada disekeliling manusia terutama dikalangan berada.
Harga diri. Ya, harga diri saat ini dengan mudahnya dapat diperjual-belikan.
Asmi
berpikir bahwa ia harus kembali menuntut ilmu. Ia tidak mau seperti kedua orang
tuanya yang hidup dalam kesusahan. Bukan bagaimanapun caranya ia mendapatkan
uang secepat mungkin dengan segala hal, tetapi dengan bagaimana caranya ia
mendapatkan uang dengan halal, meskipun memerlukan kesabaran dan waktu yang tak
tentu. Pemikiran yang cukup matang untuk anak se-umuran Asmi yang harusnya
menikmati masa kanak-kanak nya dengan penuh canda-tawa, berkumpul bersama
teman-teman sebaya nya, bahkan merengek dan memohon-mohon kepada orang tua
mereka jika menginginkan sesuatu. Tetapi itu semua bukan yang dirasakan dan
didapatkan oleh Asmi. Asmi tidak merasa iri ataupun cemburu melihat teman-teman
sebaya disekitarnya yang merasakan hal itu. Justru dengan hidup susah
dikalangan orang-orang yang serba ada menjadikan Asmi memiliki keinginan dan
jiwa kerja keras yang tinggi bahwa ia harus kerja keras untuk seperti mereka.
Berbeda dengan Asmi, bukan menjadi seperti mereka yang bergelimang uang
kemudian menghamburkan uang begitu saja. Tetapi menjadi seperti mereka yang
memiliki uang, tetapi dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Luar biasa !!!
Ia
hidup di tengah-tengah peliknya ibukota, kawasan kumuh dekat bantaran sungai
dengan beratapkan selembar seng bekas dan beralaskan kardus yang ketika turun
hujan ia harus berlontang-lantung kesana-kemari mencari tempat berteduh. Ia
bukan satu-satunya anak yang bernasib malang. Ada ribuan bahkan jutaan anak,
yang bernasib sama seperti Asmi. Namun Asmi merupakan salah satu dari jutaan
anak yang memiliki kemauan yang keras untuk keluar dari nasib itu. Nasib yang
akan tetap pada diri seseorang jika mereka tetap melakukan hal sama dan
berulang-ulang tanpa menjurus ke arah perubahan yang lebih baik. Pendidikan
adalah salah satu jalan menuju perubahan itu. Oleh karena itu, setiap pagi
hingga pukul 12 siang ia selalu pergi ke sekolah bekas ia sekolah setahun yang lalu.
Meskipun ada perubahan, yang awalnya ia berada di dalam kelas sekarang ia
berada di luar kelas, tepatnya di balik jendela kaca. Tak sedikit cemoohan yang
keluar dari mulut-mulut anak-anak juragan, anak pengusaha, bahkan anak
konglomerat yang mereka lontarkan kepada Asmi setiap harinya.
Hingga
suatu hari berlalu, Asmi melihat sekumpulan botol yang ia kumpulkan setiap
harinya yang belum sempat dijual. Tak terlintas ia harus menjual botol bekas
itu, tiba-tiba terlintas di pikirannya sebuah ide yang brilliant !!! sebagian uang yang terkumpul, ia gunakan untu membeli
lem. Ia mengumpulkan tutup botol bekas minuman. Ia bergegas mencuci tutup botol
yang sudah ia kumpulkan. Satu-persatu, tutup botol itu ia rekatkan erat dengan
lem hingga membentuk tempat yang bermanfaat. Ia membuat sebuah tong sampah.
Tong sampah yang dibuat berbahan ratusan tutup botol yang biasanya orang-orang
buang begitu saja kini menjadi sebuah tempat yang berguna. Tong sampah hasil
karya nya itu, kemudian ia jajahkan dijalanan, ia tawarkan ketika lampu merah. Kaca
demi kaca mobil ia ketuk untuk menawarkan hasil karya nya itu. Tak sedikit
orang yang enggan membuka kacanya untuk melihat apalagi membelinya. Orang-orang
kaya berdasi yang hanya sibuk bergelut dengan waktu dan duduk manis ditempat
ber-AC sembari menatap komputer. Mereka memiliki pandangan hidup yang luas,
tetapi tidak dengan mata hatinya. Mereka menggunakan matanya untuk melihat
dunia sekitar tetapi kebanyakan dari mereka tidak melihat dunia disekitar
mereka dengan mata hatinya. Hampir puluhan kaca mobil yang ia ketuk, tak ada
satupun yang membukanya. Mereka memburu waktu, waktu yang didalamnya terdapat
uang uang dan uang. Terik matahari disiang itu, membuat Asmi bermandikan
keringat.
Hingga
pada suatu ketika, ada sepasang suami istri yang berbaik hati dengan menggunakan
motor butut keluaran jaman dulu “astrea” memanggil
Asmi. Mereka terlihat bukan dari kalangan berada, bukan dari kalangan menengah
bukan pula dari kalangan bawah seperti Asmi. Mereka bisa dibilang berada
diantara kalangan menengah dan kalangan bawah. Asmi pun menghampiri kedua
pasang suami istri itu. Dan ternyata mereka ingin membeli tong sampah hasil
karya Asmi. Mereka tidak iba, justru karena mereka salut akan kegigihan anak
seumuran Asmi yang tak kenal lelah menjajakkan sebuah tong sampah meskipun
berpuluh-puluh mobil enggan membukakan kacanya. Sepasang suami istri itu
menawarkan tong sampah miliknya dengan sebuah kantong plastik yang berisikan
labu. Di satu titik sebenarnya Asmi sangat membutuhkan uang agar ia dapat
melanjutkan sekolahnya yang terputus itu. Tetapi disisi lain ia merasa sangat
senang karena masih ada yang mau melihat dan menghargai hasil karya nya itu,
meskipun hanya dihargai dengan sebuah labu. Dengan penuh ikhlas Asmi menukarkan
tong sampah miliknya dengan sebuah labu. Dalam benaknya “apalah arti sebuah karya jika hanya dihargai dengan uang, dihargai
tidak harus dengan uang. Uang dapat dicari kemudian”.
Sesampainya
di rumah tempat ia tinggal dengan kumpulan botol-botol sampah miliknya.
Tepatnya bukan rumah, karena memang tidak layak untuk di huni. Gubuk ?? yah
mungkin itu sebutan yang tepat. Ia membelah labu itu, dan tak disangka didalam
labu kecil pemberian kedua suami istri itu terdapat mutiara. Sempat ganjil
memang, ketika sepasang suami istri itu memberikan labu miliknya, Asmi melihat
labu didalam plastik yang telah berada dalam genggamnya. Belum sempat Asmi
mengucapkan terimakasih karena mereka berkenan melihat tong sampah yang
dibuatnya, tiba-tiba kedua orang itu menghilang sekejap mata padahal lampu
masih merah belum berubah hijau. Asmi terheran, tetapi ia tidak menghiraukan
hal itu. Ia hanya berpikir, mereka adalah jelmaan malaikat yang Tuhan kirimkan
untuk menolongnya. Tidak ada yang tidak
mungkin, dan tidak ada yang mustahil di dunia ini selama Tuhan berkehendak atas
segala kuasa-Nya.
Asmi
bergegas menjual mutiara itu. Uang yang didapatkan dari hasil penjualan mutiara
tersebut begitu banyak. Ia dapat melanjutkan sekolahnya, membeli rumah mewah,
mobil, menyewa pembantu, bahkan ia dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih
bagus dari sekolah yang sebelumnya ia tempati. Tapi di luar dugaan dan diluar bayangan.
Rumah mewah, sekolah elit, mobil, pembantu tidak sedikitpun berada dalam lintas
pikirannya. Ia tetap sekolah di tempat sebelumnya ia sekolah, ia membeli rumah
tetapi rumah yang sederhana. Karena ia merasa bahwa saat ini belum saatnya.
Sisa uang yang ia miliki, ia bagikan kepada orang-orang yang bernasib sama
sepertinya. Ia berpikir bahwa semua yang di miliki bukan hak ia seutuhnya, ia
hanya menggunakan rejeki dari Tuhan secukupnya bukan semaunya. Karena semaunya tidak akan ada batasnya. Bocah
ajaib memang. Ia tetap menjadi pemulung, tetapi ia tidak meninggalkan
kewajibannya sebagai pelajar. Uang hasil sebagian ia menjual barang bekas
merupakan bekal Asmi dalam membiayai kebutuhan hidupnya.
Detik,
jam, hari, bulan, waktu dan tahun demi tahun berlalu. Tak terasa, Asmi telah
tumbuh menjadi seorang remaja dan kini ia duduk di bangku SMA. Bukankah jika
ditotal..biaya SD, SMP, SMA cukup banyak dan jika dibandingkan dengan hasil
dari penjualan barang bekas tidak akan cukup untuk membiayai sekolahnya. Uang
penjualan barang bekas hanya dapat membeli makan sehari-hari. Tidak hanya bekal
barang rongsokan, tetapi otak yang ia punya. Tidak sia-sia ia selalu berada di
balik jendela kaca dengan berbekal buku usang dan pensil mungil. Dengan
ketekunan dan kegigihannya dalam menuntut ilmu, Ia selalu mendapatkan beasiswa.
Bukan beasiswa bagi anak yang kurang mampu, tetapi beasiswa bagi anak-anak yang
memiliki otak brilliant alias pintar.
Ia telah membuktikan bahwa ia dapat menunjukkan kemampuannya, bukan menunjukkan
belas kasihan kepada setiap orang. Orang yang cerdas bukan berasal dari
kalangan kaya ataupun miskin. Tetapi dari cara ia mengolah, berbekal tekad,
kemampuan, dan kemauan tinggi yang tertanam dalam dirinya sendiri.
Tentu
saja Asmi tidak berhenti dalam mengembangkan segala ide yang ia punya untuk
menghasilkan kreativitas-kreativitas dalam mengolah barang bekas menjadi
sesuatu yang berharga dan bernilai jual. Ia terus menggali ide yang ia punya
dan mengajarkannya kepada orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan. Khususnya
ibu rumah tangga berada dikalangan bawah yang bekerja sebagai pemulung. Karena
Asmi pernah merasakan betul gertir pahitnya berada diposisi itu apalagi
semenjak ia kecil.
Hingga lulus SMA, ia
melanjutkan kuliah tentunya tidak mengeluarkan uang sepeserpun, melainkan
beasiswa. Setelah lulus kuliah, ia bekerja disebuah perusahaan. Tempat
orang-orang mengenakan dasi, dan berkemeja rapih yang dulunya hanya bisa
mencemooh dan tidak bisa memandang orang sekitar menggunakan mata hatinya. Ia
tidak balas dendam, tetapi ia ingin menunjukkan bahwa tidak seharusnya
memandang rendah orang yang berada dibawah. Asmi tetap menjadi seseorang yang
rendah hati. Saat ini memang Asmi terlihat sibuk dengan rutinitas barunya
sebagai karyawan disalah satu perusahaan di Ibukota. Tetapi hasil dari
kesibukannya semata untuk mendirikan sebuah tempat untuk menampung orang-orang
kalangan bawah. Untuk apa ?? untuk membagikan dan mengajarkan ide kreatifnya
dalam mengolah barang bekas yang memiliki nilai jual ekonomi untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari. Ia berharap agar tidak ada lagi pemulung, pengemis
ataupun pengamen dijalanan. Andai kedua orang tuanya masih hidup, pasti mereka
bangga melihat anak semata wayangnya kini menjadi seseorang yang berguna dan
bermanfaat bagi setiap orang. Rahasia terbesar Asmi adalah disaat ia berjuang
keras mati-matian tanpa lelah, tanpa menyerah, hasil karya nya di tolah
sana-sini, sekejap pertolongan dari Tuhan pun datang. Entah melalui perantara
apapun itu. Ini membuktikan bahwa Tuhan tidak tidur. Tuhan selalu mengawasi
setiap gerak-gerik dan apa saja yang dilakukan manusia. Tuhan akan memapah
orang yang mau berusaha dan berdoa. Tetapi seketika Tuhan bisa melepaskan kita
dari genggamannya, ketika kita menyalahgunakan pemberian dan pertolongan dari-Nya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar